Selasa, 04 Maret 2014

Kemiskinan adalah Amanat

Saat di Pesantren dulu, Abah selalu menekankan kepada saya untuk belajar Qonaah, nriman, apa adanya. "kau punya Allah nak, dan Allahlah yang memberimu rezeki. Abah hanya perantara saja." 

Suatu saat saya menelepon rumah karena kiriman habis, Abah tidak langsung meng-iyakan permintaan saya untuk mengirim uang lagi, tetapi  Abah menyempatkan dulu untuk bercerita: "dulu nak, saat Abah masih mondok, setiap kali Abah kehabisan uang, Abah mengantongi "kempyeng" (tutup botol) untuk menunjukkan pada semua orang bahwa Abah selalu punya uang, sementara kau ini sebentar-sebentar menelepon minta uang."


Terus terang saat itu saya tak habis pikir, kenapa harus susah-susah menumbuk kempyeng hingga ceper dan mengantonginya... hanya karena ingin dilihat sebagai orang berpunya? sungguh perbuatan sia-sia, dan saya tak lagi memikiran atau mengingat cerita itu lagi. 
-----

Saat "muthola-ah" kitab digital tiba-tiba saya menemukan nash hadits yang membuat saya teringat kembali cerita Abah di telepon duapuluhan tahun yang lalu sebuah justifikasi atas apa yang dilakukan Abah saat masih mondok di krapyak Jogja .

قَالَ صلى الله عليه وسلم: «الْفُقَرَاءُ أمَانَةٌ فَمَنْ كَتَمَهُ كَانَ عِبَادَةً، وَمَنْ بَاحَ بِهِ فَقَدْ قَلَّدَ إخوَانَهُ المُسْلِمين 
RasuluLlah bersabda: "Kefakiran adalah amanat, barangsiapa menyembunyikannya maka hal itu adalah ibadah, dan barangsiapa memamerkan kefakirannya, sama halnya dia menjerat leher saudaranya yang muslim."

ternyata yang dilakukan Abah bukan perbuatan sia-sia, bahkan hal itu adalah ibadah. 

Miskin adalah karamah dari karamah Allah, bahkan orang-orang faqier akan ngruwangi lungguh bersama Allah. Tentu tidak sembarang orang faqier/miskin yang bisa seperti itu, Rasulullah menyatakan :
لِكُلِّ شَيْءٍ مِفْتَاحٌ وَمِفْتَاحُ الجَنَّةِ حُبُّ المَسَاكِينِ وَالْفُقَرَاءِ لِصَبْرِهِمْ هُمْ جُلَسَاءُ الله تَعالَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ
tiap-tiap sesuatu ada kuncinya, dan kunci surga adalah mencintai orang-orang miskin, orang-orang faqier karena kesabarannya adalah orang-orang yang duduk bersama Allah di hari kiamat.

kunci utamanya adalah Qonaah, menerima apa adanya segala rizki yang diberikan oleh Allah sebagaimana sabda Nabi yang lain:

وروي عن علي كرم الله وجهه عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: «أَحَبُّ العِبادِ إلى الله تَعَالى الفَقِيرُ القَانِعُ بِرِزْقِهِ الراضي عَنِ الله تَعَالى»
diriwayatkan oleh Sayidina Ali, RasuluLLah bersabda: " hamba Allah yang paling dicintai Allah adalah orang fakir yang nriman, qanaah dengan rizkinya dan ridlo atas segala yang bersumber dari Allah.

Tentu bukan sesuatu yang mudah untuk dilakukan, karena memang segala macam amanat dari Allah sangatlah berat untuk dipikul dan dilaksanakan. coba bayangkan saat kita dalam keadaan tak memiliki apa-apa, anak isteri menangis karena belum makan, kemudian disaat yang sama ada seseorang yang membagi-bagikan uang, atau ada antrian BLT dari pemerintah, mampukah kita menyembunyikan sifat butuh kita? menahan diri untuk tidak mendatangi tempat pembagian uang?

Kenapa kita tidak boleh menampakkan rasa butuh kita? kepapa-an kita? Habib Shaleh Ibn Ahmad Ibn Salim Alaydrus menjelaskan: " mengeluh kepada manusia, makhluk yang dicipta, yang tidak bisa menentukan apa-apa, sama halnya seperti melaporkan kepada makhluk, "lihatlah tuhan telah menjadikan aku miskin, tuhan menjadikan aku papa, menjadikan aku musibah, menjadikan aku sakit" karenanya para salafusshalih tak pernah menampakkan rasa butuhnya kepada manusia. Mereka menampakkan rasa butuhnya hanya kepada Allah. tak mudah memang, karena kemiskinan adalah amanat Allah yang harus dijaga.... mampukah kita?

(Wangsit Gus Achmad Shampton Masduqie, Putra KH. Masduqi Mahfudz Malang)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar